Asal Muasal Kata Lam dalam Bahasa Aceh            

Salah satu kekhasan nama toponimi kampung di Aceh terutama di Aceh Besar dan sekitarnya adalah awalan Lam pada nama kampung. Ada ratusan nama kampung yang diawali dengan kata Lam, misalkan Lam Pulo, Lam No, Lam Baro dan lain-lain.

Sebenarnya dari manakah asal kata ini berasal?

Ada beberapa pendapat yang beredar dalam masyarakat dalam hal ini. Misalkan ada yang berpendapat bahwa kata “lam” ini bermakna dalam, dalam artian nama kampung dengan awalan lam ini terletak di pedalaman. Pendapat ini tidak masuk akal, karena banyak kampung yang letaknya di pesisir bahkan beberapa daerah merupakan pusat kerajaan di masa lalu, misalkan Lam Reh dan Lam No.

Pendapat kedua menyebutkan bahwa asal kata “lam” ini berasal dari kata blang. Jadi menurut pendapat ini kampung-kampung dengan awalan lam pada mulanya adalah blang (sawah). Anggapan ini juga tertolak, karena ada banyak kampung malah bernama Lam Blang.

Lantas, dari manakah asal mula nama “lam” ini?

Sebenarnya cukup mudah untuk menelusurinya. Tinggal buka kamus Bahasa Aceh pada entri lam, maka akan langsung ditemukan jawabannya. Berikut saya kutipkan entri lam dari Kamus Aceh-Indonesia karangan Abu Bakar dkk terbitan Balai Pustaka.

Etimologi Asal

Jika kita hendak telusuri lebih lanjut, dari mana asal muasal kata lam, akan ditemukan fakta yang menarik. Perbandingan dengan bahasa-bahasa tetangga di sekitarnya, tidak ada satu pun yang serupa. Bahasa Melayu menyebutnya kampung, sedangkan Bahasa Gayo menyebutnya kuta.

Sebagaimana diketahui Bahasa Aceh berasal dari perpindahan orang Campa dari Vietnam bagian tengah sekarang. Bahasa Aceh juga memiliki banyak substratum dari rumpun Bahasa Austro Asiatik. Suatu kesamaan dengan Bahasa Campa yang juga memiliki karakteristik yang sama. Namun demikian substrat Austro Asiatik dalam Bahasa Aceh dan Bahasa Campa tidak sama persis meskipun Bahasa Campa merupakan kerabat terdekat Bahasa Aceh. Misalkan untuk kata lam ini. Istilah kampung dalam Bahasa Campa sangat jauh berbeda, yaitu puk atau peley. Kata ini diserap dari kelompok Bahasa Bahnarik Barat.

Hasil penelusuran database Bahasa Austro Asiatic ( http://sealang.net/monkhmer/dictionary/ ), ditemukan ada 3 bahasa yang memiliki kesamaan dengan kata lam, yaitu Bahasa Laven di Vietnam bagian tengah, Bahasa Kensiu di Semenanjung Malaya dan Bahasa Car di Kepulauan Nikobar. Bahasa Laven termasuk kelompok Bahasa Bahnarik Utara dan Bahasa Kensiu termasuk dalam kelompok Bahasa Orang Asli.

Istilah kampung dalam Bahasa Car dan Laven adalah panam. Sedangkan dalam Bahasa Kensiu adalah lalagng. Kenapa panam berhubungan dengan lam dalam Bahasa Aceh? Dalam Bahasa Aceh, banyak ditemukan gejala pemotongan suku kata di awal dan hanya tertinggal suku kata kedua. Misalkan korespondensi bunyi dengan Bahasa Melayu, aku à kèe, daun à ôn, cabut à bôt dll. Kemudian perubahan bunyi N menjadi L, menantu à meulintèe, kenanga à seulanga, nombor à lumbôi dll.

Lalu, dari bahasa manakah Bahasa Aceh memperolehnya? Sulit untuk memastikannya. Dari dugaan saya kemungkinan paling besar adalah dari Bahasa Laven, dikarenakan substratum Bahasa Austro Asiatik terbanyak dalam Bahasa Aceh berasal dari Bahasa Bahnarik. Kemungkinan kedua adalah Bahasa Aceh memperolehnya dari Bahasa Orang Asli, dikarenakan ditemukan beberapa substratum dalam Bahasa Aceh yang memiliki kesamaan dengan Bahasa Orang Asli tapi berbeda dengan Bahasa Bahnarik. Misalkan kabut dalam Bahasa Aceh adalah sagôp dan Bahasa Jahai/Temiar adalah sagub. Sedangkan dalam Bahasa Campa adalah sauk dan Bahasa Bahnarik adalah sauh.

Sebagian ahli Bahasa menduga bahwa Bahasa Aceh memperoleh substrat Bahasa Orang Asli dikarenakan dalam perpindahan orang Campa ke Aceh, mereka sempat menetap di Semenanjung Malaya sebelum melanjutkan perjalanan ke Aceh. Tetapi saya berpendapat bahwa substrat Austro Asiatik yang serupa dengan Bahasa Orang Asli diperoleh dari penduduk asli Aceh sebelum kedatangan orang Campa, yaitu Bahasa Mante. Untuk ini akan kita bahas dalam tulisan yang lain.

Implikasi Sejarah

Penemuan hal ini memiliki implikasi sejarah yang cukup menarik. Sampai saat ini kerajaan tertua di Aceh menurut catatan bangsa luar adalah Kerajaan Lamri atau dalam Bahasa Aceh adalah Lam Rèh. Catatan tertua mengenai Lamri dapat ditemukan dalam kitab karangan Ibnu Khurdadbih dari abad ke-9 Masehi dengan nama Ram(n)i. Kemudian Lan-Li dalam Cheou Kiu Fei (1178), Lamuri (Ibn Sa’id, 1286), Ilamuridesam (Inskripsi Tamil, 1030) dan Lambri (Marcopolo, 1292).

Dengan demikian bisa dipastikan bahwa migrasi orang Campa ke Aceh sudah terjadi setidaknya sejak abad ke-9 Masehi dan bahkan lebih awal dikarenakan pembentukan sebuah kerajaan besar seperti Lamri tentu membutuhkan waktu yang cukup lama.

Tinggalkan komentar