Berikut adalah kosakata bahasa Aceh mengenai tubuh:
Tubuh : Tubôh
Badan : Badan
Kulit : Kulét
Rangka : Rungkha
Leher : Takuë
Kuduk : Kudôk
Bahu : Bahô
Ketiak : Geutiëk
Dada : Dada
Perut : Pruët
Punggung : Ruëng
Pantat : Punggông
Berikut adalah kosakata bahasa Aceh mengenai tubuh:
Tubuh : Tubôh
Badan : Badan
Kulit : Kulét
Rangka : Rungkha
Leher : Takuë
Kuduk : Kudôk
Bahu : Bahô
Ketiak : Geutiëk
Dada : Dada
Perut : Pruët
Punggung : Ruëng
Pantat : Punggông
BUNYI HIDUP TUNGGAL
A a Seperti a dalam kata dada, jaja, kata, raba, saya, tata dan lain-lain. Contoh: arôn (cemara), keubah (simpan), na[1] (ada)
I i Seperti i dalam kata bibi, pipi, sisi, titi dan lain-lain. Contoh: inong (perempuan), lino (mimisan), hi (mirip)
U u Seperti u dalam kata cucu, kuku, susu dan lain-lain. Contoh: unoë (lebah), lut (luka), bu (nasi)
É é Seperti é dalam kata kece, kere, kue, lele dan lain-lain. Contoh: éh (tidur), jéh (itu), baté (kira)
E[2] e Seperti e dalam kata belum, kepala, serang, terang dan lain-lain. Contoh: e (hai), len[3] (padam), le[4] (banyak)
È è Seperti è dalam kata besok, kepang, perak, sepak, seret dan lain-lain. Contoh: èk (tahi), bèk (jangan), nè (asal)
EU eu Tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bagi, yang baru belajar bahasa Aceh cukup melafalkannya seperti huruf e. Contoh: eu (lihat), beun[5] (tembolok), beu (biar)
O o Seperti o dalam kata borok, coba, kolak, orang, sopan dan lain-lain. Contoh: ok (bual), soh (kosong), ho (ke mana)
Ö ö Tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Bagi yang baru belajar bahasa Aceh cukup melafalkannya seperti huruf o. Contoh: ? mantöng[6] (masih) beu’ö[7] (malas)
Ô ô Seperti o dalam kata bobo, foto, koko, soto, tato dan lain-lain. Contoh: ôk (rambut) sôh (meninju) rô (tumpah)
BUNYI HIDUP TUNGGAL SENGAU
‘A ‘a Contoh: ‘ap (makan) s‘ah[8] (membisik) ?
‘I ‘i Contoh: ‘icha (isya) ? ch‘i (bunyi desing)
‘U ‘u Contoh: ‘u (bunyi deru) ? ?
‘È ‘è Contoh: ‘èt (pendek) ch‘èk (kecil) pa‘è (tokek)
‘EU ‘eu Contoh: ‘eui (merayap) h‘euh (nih) ?
‘O ‘o Contoh: ‘oh (tahu) s‘oh (merasuk) ch‘oë (sengau)
‘Ö ‘ö Contoh: ? ? ?
BUNYI HIDUP RANGKAP
IË ië Contoh: iët (nama ikan), biëng (kepiting), sië (daging)
UË uë Contoh: uët (gosok), buëng ( rawa), buë (kera)
ÈË èë Contoh: èëlia (aulia), tèëbat (taubat), asèë (anjing)
EUË euë Contoh: euë (mandul), beuët (baca), pleuë (gosok)
OË oë Contoh: oë (ungkit), bloë (beli)
BUNYI HIDUP RANGKAP SENGAU
‘ÈË ‘èë Contoh:
‘IË ‘ië Contoh:
‘UË ‘uë Contoh: ‘uë (membajak), s‘uëb (paru)
Catatan:
Ë ë Bukan bunyi tunggal. Tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Lebih kurang dibaca seperti bunyi /a/ pada kata kampuang dalam bahasa Minang, hanya saja diganti dengan bunyi /e/. Bagi yang baru belajar bahasa Aceh, huruf ini dapat diabaikan.
Contoh: — èëlia[9] (aulia) troë (kenyang)
BUNYI MATI
B b Contoh: ba (bawa), sibu (siram), ranub (sirih)
C c Contoh: cuë (curi), cicém, (burung)
D d Contoh: da (kakak), adèë (jemur)
G g Contoh: go (gagang), cagok (lawak)
H h Contoh: ho (ke mana), caheuëng (tonggos), soh (kosong)
J j Contoh: ju (didih), pajôh (makan)
K k Contoh: ka (sudah), paké (bertengkar), bak (pada)
L l Contoh: le (banyak), seulah (trik)
M m Contoh: mè (bawa), leumah (tampak), rhom (lempar)
N n Contoh: na (ada), seunak (sesak), lôn (saya)
NG ng Contoh: nga (beringin), bangai (bodoh), wéng (kayuh)
NY ny Contoh: nyan (itu), rinyah (becek)
P p Contoh: peuë (apa), lapèë (lumpuh), kap (gigit)
R r Contoh: rô (tumpah), sira (garam)
S s Contoh: su (suara), pasi (pantai)
T t Contoh: toë (dekat), mita (cari), lut (luka)
W w Contoh: woë (pulang), riwang (kembali)
Y y Contoh: yu (suruh), payéh (pepes), sapai (lengan)
Bunyi /f/, /q/, /v/, /x/ dan /z/ tidak terdapat dalam bahasa Aceh. Bunyi /f/ hanya terdapat pada sebagian dialek.
Berbeda dengan bahasa Melayu, bahasa Aceh tidak memiliki kata-kata yang berakhiran dengan bunyi /l/, /r/, /s/ dan /w/.
Juga tidak memiliki kata-kata yang berakhiran dengan huruf c, d, g, j dan ny.
BUNYI MATI RANGKAP
BH bh Contoh: bhuëk (tenggelam) —
BL bl Contoh: blië (melotot) —
BR br Contoh: bruëk (tempurung) subra (ribut) —
CH ch Contoh: choë (alasan) keuch‘ak (geniter) —
CR cr Contoh: crah (retak) peucrok (mengejar) —
DH dh Contoh: dhiët (bagus) —
DR dr Contoh: drop (tangkap) kadra (belanak) —
GH gh Contoh: ghuën (kental) —
GL gl Contoh: gla (licin) —
GR gr Contoh: gr‘am (gemas) —
JH jh Contoh: jhô (mendorong) —
JL* jl Contoh: jluëh (rusa) —
JR jr Contoh: jroh (baik) —
KH kh Contoh: kha (perkasa) jakhap (terkam) —
KL kl Contoh: klik (berteriak) beuklam (semalam) —
KR kr Contoh: kruëng (sungai) sikrôp (sekerup) —
LH lh Contoh: lhat (menggantung) —
MB* mb Contoh: mbông (sombong) —
MP* mp Contoh: mpèë (empu) —
NC* nc Contoh: ncông (di atas) —
ND* nd Contoh: ndië (nama takaran) —
NDR* ndr Contoh: ndrop —
NGG* ngg Contoh: nggang (enggang) —
NJ* nj Contoh: njèë —
NYH* nyh Contoh: nyhèh (sekam) —
PH ph Contoh: pho (terbang) kaphé (kafir) —
PL pl Contoh: pluëng (lari) kaplat (keparat) —
PR pr Contoh: proh (memecahkan) —
RH* rh Contoh: rhah (mencuci) —
SH* sh Contoh: sh‘ah (membisik) —
SR* sr Contoh: srah (mencuci) —
TH th Contoh: thô (kering) bathom (beban) —
TR tr Contoh: troë (kenyang) bétra (bahtera) —
Catatan:
* Tidak pada semua dialek
Bunyi mati rangkap /mb/, /mp/, /nc/, /nd/, /ngg/ dan /nj/ tidak terdapat pada beberapa dialek, sehingga pada kata-kata yang memakai bunyi di atas, selalu didahului bunyi /eu/, sehingga:
mbông —> eumbông
mpèë —> eumpèë
ncông —> euncông
ndië —> eundië
nggang —> eunggang
njèë —> eunjèë
Bunyi mati rangkap /ndr/ saya peroleh dari Saudara Fadli Rais dari Peureumbeuë, Acèh Barat. Dalam Kamus Bahasa Aceh-Indonesia terbitan Balai Pustaka, tidak menyebutkan adanya bunyi ini, demikian pula untuk bunyi mati rangkap /sh/. Sedangkan bunyi mati rangkap /nyh/, pada dialek lainnya hanya berupa /ny/.
Perlu diketahui bahwa kata-kata yang berbunyi mati rangkap /mb/, /mp/, /nc/, /nd/, /ndr/, /ngg/, /nj/, /nyh/ dan /sh/, sangat terbatas jumlahnya dalam bahasa Aceh.
Bunyi mati rangkap /sr/ hanya terdapat pada dialek Banda, sedangkan pada dialek lainnya berupa bunyi mati rangkap /rh/. Jumlah kata-kata yang berbunyi mati rangkap ini juga tidak banyak jumlahnya.
Walaupun tidak semuanya, bunyi mati rangkap /jl/ berasosiasi dengan bunyi mati rangkap /gl/ pada dialek lainnya. Bunyi mati rangkap /gl/ lebih luas penyebarannya.
Untuk bentuk pdf bisa dilihat di sini: Ejaan Bahasa Aceh
[1] Pada dialek Banda: nö.
[2] Tidak dijumpai pada dialek Aceh Selatan (menurut Irwanto dari Kandang, Kluet Selatan) dan Banda, kecuali pada kata “le” (banyak), itupun pada dialek Lhong Raya diucapkan “lô”. Fonem /e/ pada dialek-dialek ini berubah menjadi /ô/.
[3] Pada dialek Banda: lôn.
[4] Pada dialek Lhong Raya: lô (wawancara dengan Cut Munandar dari Lhong Raya).
[5] Pada dialek lainnya: beum.
[6] Pada dialek Banda dan Aceh Selatan (Irwanto Kandang): mantong.
[7] Pada dialek Banda, Laweueng (wawancara dengan Hidayat) dan Aceh Selatan: beu’o.
[8] Pada dialek Seulimeum: sh‘ah. Pada dialek lainnya: s‘aih.
[9] Pada dilake lainnya: olia.
Seulimeum (Dialek Seulimeum: Seulimeung) adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Aceh Besar. Kecamatan ini memiliki 47 kampung (Aceh: gampông) dan 5 kemukiman (Aceh: mukim), yaitu Seulimeum, Tanoh Abèë, Lam Kabeu, Lam Teuba, dan Lam Panah[1]. Sebelumnya kecamatan Seulimeum juga mencakup Kecamatan Lembah Seulawah dan Kota Jantho. Ke depan kecamatan Seulimeum juga akan dimekarkan lagi yaitu Kecamatan Seulawah Agam yang meliputi Mukim Lam Teuba dan Lam Panah.
Dari beberapa keterangan yang saya peroleh[2], Bahasa Aceh Dialek Seulimeum mencakup Mukim Seulimeum, Tanoh Abèë dan Lam Kabeu. Juga kemungkinan Kecamatan Lembah Seulawah dan Kota Jantho. Sedangkan Mukim Lam Teuba dan Lam Panah memiliki dialek tersendiri yang berbeda dengan Dialek Seulimeum. Batas-batas pasti belum dapat ditentukan mengingat belum ada penelitian yang sungguh-sungguh dilakukan.
Dialek Jantho barangkali suatu dialek tersendiri mengingat pengaruh bahasa suku asli Aceh yang sudah punah yaitu Suku Bante/Mante yang terakhir terdapat di kecamatan ini. Dialek Jantho menurut orang Seulimeum lebih kasar daripada Dialek Seulimeum.
Ada 5 huruf bahasa Aceh yang tidak terdapat pada papan huruf (keyboard) yang biasa. Kelima huruf tersebut adalah é, è, ë, ô dan ö . Sebenarnya bisa saja kita mengetiknya dengan menggunakan papan huruf Eropa seperti untuk bahasa Perancis dan sebagainya. Tetapi kendalanya adalah akan ada perubahan-perubahan yang sedikit membingungkan, misalnya tombol q pada papan huruf Perancis akan menampilkan huruf a, dan masih banyak contoh lainnya.