Memurnikan Bahasa Aceh

Berikut adalah sekian banyak kata-kata yang sebenarnya bukan bahasa Aceh tetapi sudah merasuki bahasa Aceh cukup dalam. Apabila tidak segera diantisipasi, maka nasib kata-kata asli bahasa Aceh akan punah.

Daripada                      Nibak

Seuréng                       Kayém

Belajar                       Meurunoë

Rajin                         Jeumot

Lurus                         Teupat

Belok                         Wét

Senin                         Seunanyan

Begadang                    Meujaga

Continue reading →

Salat

Sama seperti pada bahasa Melayu, bahasa Aceh asli tidak mengenal kata salat. Yang dipakai adalah kata seumayang (sembahyang). Namun seiring dengan upaya-upaya pemurnian ajaran Islam, kini kata salat mulai dibangkitkan. Jadi, terserah pada Anda untuk menggunakan yang mana.

Jéh, ka jibang.

Sudah azan tu.


Hay, ka suboh.

Oi, sudah subuh.

Dalè ka’éh! Le teungeut ngon jaga!

Asik tidur kau! Banyak tidur daripada bangun!


Bôh jak taseumayang/tasalat lèë*.

Yuk kita shalat dulu.


Tajak u meuseujid jak.

Ke mesjid yuk.

Continue reading →

Perkenalan 2

Dalam percakapan sebelumnya, percakapan terjadi antara sesama orang Aceh. Berikut adalah percakapan antara orang Aceh dengan orang dari luar Aceh.

Assalaamu ’alaykum.

Wa ‘alaykum salaam.

Nan droëneuh soë?

Nama Anda siapa?

 

Nan lôn Agam. Nan droëneuh?

Nama saya Agam. Nama Anda?

 

Nan lôn Ahmad.

Nama saya Ahmad.

 

Pat neuduëk?

Di mana Anda tinggal?

 

Continue reading →

Imbuhan dalam Bahasa Aceh

Apabila kita abaikan bentuk-bentuk imbuhan kata ganti yang telah kita bahas sebelumnya, maka jumlah imbuhan dalam bahasa Aceh lebih sedikit jumlahnya dibandingkan dengan jumlah imbuhan yang ada dalam bahasa Indonesia. Juga imbuhan dalam bahasa Indonesia lebih rumit dibandingkan dengan imbuhan dalam bahasa Aceh.

Bila dalam bahasa Indonesia dijumpai bentuk imbuhan yang menyatakan pelaku (awalan pe-) atau dalam bahasa Arab disebut faa‘il, maka dalam bahasa Aceh tidak dikenal imbuhan untuk menyatakannya. Juga tidak dijumpai bentuk imbuhan yang sepadan dengan imbuhan pe- -an, per- -an dan ke- an. Demikian pula halnya dengan akhiran, tidak dijumpai dalam bahasa Aceh.

Sehingga permasalahan utama dalam penerjemahan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Aceh adalah bagaimana cara menerjemahkan ketiga gabungan imbuhan di atas, yaitu pe- -an, per- -an dan ke- -an. Misalkan bagaimana menerjemahkan kata penyatuan, persatuan dan kesatuan.

Untuk permasalahan ini, akan kita bahas dalam tulisan tersendiri.

AWALAN

I. Awalan Meu-

Awalan meu- memiliki makna yang hampir sama dengan awalan ber- seperti dalam bahasa Indonesia. Awalan ­meu- berubah menjadi mu- apabila berjumpa dengan kata berawalan huruf /b/, /m/, /p/ dan /w/. Perubahan ini tidak terdapat pada semua dialek. Beberapa dialek tetap mempertahankan bentuk aslinya.

Continue reading →

Hubungan Bahasa Aceh dengan Bahasa Singkil

Berikut adalah perbandingan antara kata-kata bahasa Aceh dengan bahasa Singkil yang tidak seakar dengan bahasa Melayu. Kata-kata bahasa Singkil diambil dari Kamus Singkil – Indonesia oleh Mulyadi Kombih. Bisa diunduh di sini: http://www.scribd.com/doc/18479737/Kamus-Singkil-Indonesia

Bahasa Singkil Bahasa Aceh Bahasa Melayu
Babah Babah Mulut
Bacek Bacé Ikan gabus
Bakhi Baroë Kemarin
Boho Beuhe Berani
Buk Ôk Rambut
Buni Bunoë Tadi malam (S), Tadi (A)
Cambung Cambông Sejenis mangkuk
Carak Carak
Cengis Ceungih
Ciris Tiréh Bocor Continue reading →

Perkenalan

Assalaamu ’alaykum.

Wa ‘alaykum salaam.

Nan droëneuh soë?
Nama Anda siapa?

Nan lôn Saiful. Nan droëneuh?
Nama saya Saiful. Nama Anda?

Nan lôn Fadli.
Nama saya Fadli.

Pat neuduëk? / Pat tinggay?
Di mana Anda tinggal?

Lôn lônduëk di gampông Keuramat. Droëneuh?
Saya tinggal di kampung Keuramat. Anda?

Lôn di Lam Priët.
Saya di Lam Priët.

Di Lam Priët? Toë lagoë! Patjih di Lam Priët? Lôn na syèëdara di Lam Priët, kayém lônjak-jak.
Di Lam Priët? Dekat rupanya! Di mananya di Lam Priët? Saya ada saudara di Lam Priët, sering saya berkunjung.

Lôn bak jalan Pari. Syèëdara Droëneuh bak jalan peuë?
Saya di jalan Pari. Saudara kamu di jalan apa?

Syèëdara lôn bak jalan Ayah Hamid.
Saudara saya di jalan Ayah Hamid.

Gampông-neuh pat?
Kampung kamu di mana?

Lôn gampông di Trumon. Droëneuh pat?
Kampung saya di Trumon. Kamu di mana?

O man, jeu’ôh that lagoë! Lôn gampông di Langsa.
Wow, jauh sekali! Kampung saya di Langsa.

Langsa jeu’ôh cit. Saban tanyoë.
Langsa jauh juga. Sama kita.

Continue reading →

Nama Asli Aceh

Sejak masuknya agama Islam ke Aceh, maka mulailah masyarakat Aceh memakai nama-nama Islam dan meninggalkan nama-nama sebelumnya. Walaupun demikian, sisa-sisanya masih dapat kita jumpai sampai saat ini. Baris pertahanan terakhir pemakaian nama-nama Aceh sejauh pengamatan saya adalah pada masa buyut saya (di atas kakek dan nenek saya) kira-kira akhir abad ke 19.

Namun, sekarang pemakaian nama-nama dalam bahasa Aceh mulai muncul kembali yang salah satu penyebabnya—menurut saya—adalah kemunculan Gerakan Aceh Merdeka. Sebagai contoh anak dari Gubernur Aceh saat ini, yaitu drh. Irwandi Yusuf semuanya memakai nama Aceh. Akan tetapi nama-nama dalam bahasa Aceh saat ini sudah mengalami inovasi dan kreasi baru yang pada masa-masa sebelumnya tidak pernah dijumpai.

Continue reading →